Selasa, 28 Oktober 2014

JODOH PASTI BERTEMU

Hujan rintik-rintik malam ini membuat nuansa romantis dalam sebuah kamar kos seluas 3x3 meter. Cahaya remang-remang dari luar menambah manis suasana di dalam yang gelap. Sama seperti pemiliknya yang manis, seorang cowok berperawakan tinggi dan berkulit cokelat eksotis sedang duduk di bingkai jendela kamarnya, melihat jalan yang lengang akan kendaraan yang hilir mudik.
Lamuannya mengawang jauh, pikirannya hanya tertuju pada sang pemilik hatinya. Entah apa yang sedang dilakukan pemilik hatinya itu. Tapi, rasanya hari ini ia begitu merindukannya.
Cahaya lampu jalan menerangi sebagian wajahnya, sehingga terbentuk siluet maha sempurna dari bagian tubuhnya yang tidak terkena cahaya. Siluet itu terlihat begitu gagah. Namun, di balik gagahnya siluet tubuh itu, terdapat sebuah hati yang sangat rapuh, serapuh sayap kupu-kupu.
“Hei pemilik hatiku, tau kah kamu? Aku merindukan saat-saat seperti dulu.” Gumamnya lirih. Kemudian ia tersenyum dan mendongakkan wajahnya ke langit, “Dapatkah kau merasakan rindu ini wahai pemilik hati?” lanjutnya,kemudian sebutir Kristal cair meluncur indah dari ekor matanya.
“Jika aku bukan jalanmu, aku akan berhenti mengharapkanmu! Tapi jangan kau siksa aku seperti ini! Rindu ini terlalu menyiksaku!”
‘Jika aku bukan jalanmu
Ku berhenti mengharapkanmu
Jika aku memang tercipta untukmu
Ku kan memilikimu, jodoh pasti bertemu
Jika aku (jika aku) bukan jalanmu
Ku berhenti mengharapkanmu
Jika aku memang tercipta untukmu
Ku kan memilikimu’ (Afgan – Jodoh Pasti Bertemu)
Dering telepon membuatnya tersadar akan lamunannya, di lihatnya layar LCD yang terus berkedip-kedip dan mengalunkan lagu yang mengiris hati.
‘Incoming calls : Juna’
Dia tersenyum sumringah, raut wajahnya terlihat lebih cerah dari sebelumnya.
KLIK
“Kenapa, Jun?”
“…”
“Ahh nggak, aku lagi di rumah.”
“…”
“Iya, aku kesana!”
“…”
“Bye.”
Segera dia mengambil jaket dan kunci motornya yang tergeletak begitu saja di atas nakas.
Di tungganginya kuda besi itu dengan kecepatan maksimum. Ia sungguh tak sabar untuk bertemu dengan pemilik hatinya. Seorang cowok yang dapat membuatnya mabuk kepayang.
Dialunkannya lagu indah sebagai penyemangatnya dalam berkendara. Untung sekali malam ini jalan tidak begitu macet, hanya kendalanya adalah rintik hujan yang tidak mau berkompromi dengannya.
-.-.-.-.-
Sebuah motor Ninja terparkir rapi di depan sebuah rumah yang tidak terlalu besar. Sedangkan sang empunya lagi asyik menunggu sang pemilik hati keluar dari istananya.
TOK TOK TOK
“Assallamu’allaikum.” Ucapnya seraya mengetuk pintu pemilik rumah. Jantungnya berdegup semakin cepat bagai genderang perang saat seseorang membukakan pintu untuknya.
“Wa’allaikum salam. Ah, den Tamma! Ayo masuk, den Junanya ada di dalam.” Ucap seorang perempuan paruh baya.
Wajahnya terlihat murung sesaat, “Iya bi Ijah. Makasih.” Jawab Tamma sambil melengkungkan bibirnya ke atas secara paksa pada bi Ijah –perempuan paruh baya itu- dan melangkah masuk.
“Langsung ke atas aja den, den Ajun sudah pesan begitu tadi sama bibi.” Kata bi Ijah sopan.
Tamma kembali tersenyum kali ini ia tersenyum tulus pada perempuan paruh baya itu, “Makasih ya Bi. Hehe. Bibi baik deh. Sini Tamma cium.” Candanya pada Bi Ijah.
“Ihh si den Tamma bisa aja, udah ahh, bibi mau ke belakang lagi.” Pamit bi Ijah.
“Oke Bi!”
Tiap langkah kaki Tamma kini diiringi oleh debaran jantung yang berdebar tidak normal, debarannya begitu cepa. Tangannya kini dingin dan berkeringat. Ini adalah kali pertama ia kembali menemui pemilik hatinya. Setelah 1 tahun di tinggal pergi ke luar negeri untuk Study Lanjutan.
Namun begitu mendekati pintu kamar Juna, sayup-sayup ia mendengar suara orang yang sedang berbicara, tapi ini bukan suara Juna! Tamma kenal betul suara pemilik hatinya, siapa yang bersama Juna didalam? Kenapa hatinya begitu panas mendengar kata-kata mesra yang di ucapkan orang itu pada Juna.
Begitu sampai di depan pintu kamar Juna, ia mengurungkan niatnya untuk masuk dan bertemu sang pemilik hatinya. Ia lihat suasana di dalam kamar dari celah pintu yang sedikit terbuka. Tamma kaget bukan main, Juna sedang bermesra-mesraan dengan cowok itu dan apa yang mereka lakukan dengan tubuh telanjang seperti itu!
BRAK!!
“JUNA!! APA YANG SEDANG KAU LAKUKAN?” bentak Tamma sehingga membuat keduanya menoleh kearahnya.
“Tam,, Tamma.. Ini bukan seperti yang kamu pikirkan! Dengerin penjelasan aku dulu!” teriak Juna sembari menyingkirkan rangkulan cowok itu pada bahunya. “Tamma!! Dengerin aku dulu, please!”
“Sayang, kamu mau kemana, apa kamu tidak lelah? Kita kan baru selesai melakukan ‘itu’?” cegah Rico –cowok yang bersama Juna di dalam kamar-
Tamma menghentikan langkahnya dan membalikkan badan, ia cengkram bahu Juna dengan kaut, “Jadi begini Jun? Selama ini kamu main belakang sama aku? KALO KAMU UDAH BOSEN SAMA AKU BILANG, JUN! JANGAN SIKSA AKU KAYAK GINI!! SELAMA INI AKU SELALU NUNGGU KABAR DARI KAMU!! TAPI TERNYATA INI KABAR YANG AKU DAPAT!!” Ucap Tamma sambil sesekali membentak pemilik hatinya. Ahh, tidak! Juna sudah bukan pemilik hatinya lagi. Air di pelupuk matanya sudah tak sanggup ia bendung. Kembali, butiran-butiran Kristal cair itu membasahi pipinya. Dibuangnya rasa rindu yang selama ini menyiksanya.
Juna kembali mencoba untuk menenagkan Tamma, di pegangnya tangan Tamma yang kini sudah melepaskan cengkraman pada bahunya. “Aku.. Aku di jebak Tam!! Sumpah!! Aku di jebak sama Rico!! Percaya sama aku Tam.. Aku mohon!” Jelas Juna.
“Beri aku kesempatan sekali lagi, Tam!” pinta Juna.
“Sudah lah Jun, aku sudah terlalu tersiksa dengan semua ini! Kembali padanya! Kalau jodoh, pasti kita akan bertemu lagi!” Di usapnya air mata yang setengah kering dari pipinya.
‘Di balik siluet gagah itu, terdapat sebuah hati yang begitu rapuh, serapuh sayap kupu-kupu.’ Bagai kupu-kupu yang sayapnya telah rusak, Tamma pergi meninggalkan Juna yang tergolek lesu di lantai. Begitu sakit yang ia rasakan, sungguh ia tak menyangka bahwa pemilik hatinya akan melakukan hal ini. Menodai cintanya yang suci, mengingkari janji mereka berdua!
.-.-.-.-.
Seminggu setelah kejadian itu.. di perpustakaan kampus dimana Tamma menuntut ilmu..
‘DIMANA ADA PERPISAHAN, DISITU ADA PERTEMUAN!! By : Rizki Ginara’
Tamma mengambil sebuah novel yang sampulnya terlihat begitu menarik dari rak buku di perpustakaan, “Ahh. Bullshit ni novel! Gak ada kejadian yang dapat membuktikan pepatah ini! Kalo udah berpisah ya berpisah aja, gak akan ada petemuan kedua!” ucapnya sambil kembali meletakkan novel itu sembarangan dan berniat untuk meninggalkan perpustakaan kampus.
“Hei kamu!!” teriak seorang cowok dari belakang rak buku.
Tamma menoleh ke belakang, dicarinya asal suara itu.
“Hei, kalau kamu gak mau baca novelnya, bisa gak untuk mengembalikan novel itu pada tempatnya?”
“Lo siapa?”
“Kamu gak perlu tau namaku, cukup kamu kembalikan novel itu pada tempatnya!” perintah cowok itu.
Tamma mendengus kesal, “HEH COWOK PENDEK, LO KAN BISA BALIKIN TUH NOVEL KE TEMPATNYA, KENAPA HARUS GUE??”
“Ya karena kamu yang ambil novel itu tadi!!”
“Hoi..!! Jangan berisik!! Ini perpustakaan!!” teriak salah satu mahasiswa yang sedang membaca buku di sana.
“Maaf yah!” ucap cowok pendek itu, sebenarnya tidak begitu pendek, hanya terlihat imut untuk ukuran seorang cowok.
“Hei, kamu mau kemana? Cepat kembalikan novel ini pada tempatnya!!” teriak cowok itu lagi.
Tamma hanya mengacungkan jari tengahnya dan terus berjalan keluar perpustakaan. “Cowok yang menjengkelkan!!” gurutunya.
“Kenapa Ki..?” Tanya pengurus perpustakaan.
“Itu kak, cowok itu gak bertanggung jawab, dia udah ambil novel ini dan gak mau ngembaliin ini ke tempatnya!” jelas Rizki –sang cowok pendek- sambil mengepalkan tangannya.
“Dasar cowok yang nggak bertanggung jawab!!” Teriak Rizki.
“SSSTTTTTT..!!!!!!”
“Ehehe.. maaf kawan.. maaf!” ucap Rizki yang langsung melangkahkan kakinya keluar perpus. “Awas aja kalo sampe aku ketemu orang itu lagi!! Akan aku timpuk pake novel ini!!” lanjutnya yang masih kesal dengan kejadian tadi.
.-.-.-.-.
Akankah mereka bertemu sebagai jodoh..?? siapa yang tau..
TBC..
Cerbung terakhir untuk malam ini..
banyak like, cepet post.. hehe
salam manis dari yang posting..

By : Tamma Pratama

Tiada ulasan:

Catat Ulasan